Ketum APJII: Indonesia Pantas Jadi Hub Internet Dunia

Ketua Umum APJII Jamalul Izza / Sumber foto: buletindewata

JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Jamalul Izza mengatakan, negeri ini sudah lama mendambakan menjadi salah satu hub internet di dunia.

“Saya selalu membayangkan jika Indonesia ini bisa menjadi salah satu hub internet di dunia,” jelas Jamal dikutip dari Merdeka.com.

Pernyataannya itu, terlontar manakala Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi berambisi agar kabel internet bawah laut tak lagi lewat Singapura. Melainkan, langsung ke Indonesia.

Selama ini jaringan kabel internet bawah laut Indonesia dari Amerika Serikat (AS) harus melalui Singapura sebagai hub. Dalam peta submarine cable map, Singapura merupakan titik tumpu alur kabel bawah laut di kawasan.

“Kita ingin kabel fiber optic langsung Jakarta tujuan akhirnya, tidak perlu ke tempat lain. Kita harus jadi hub,” jelas Luhut Binsar Pandjaitan.

Menurut Jamal, ada banyak keuntungan bagi Indonesia jika menjadi salah satu hub internet di dunia. Satu di antaranya adalah menjadi penghubung internet bagi negara-negara yang dekat dengan Indonesia. Bila ini terjadi, maka negeri ini akan diuntungkan dari banyak hal, salah satunya ekonomi nasional.

“Kalau dari sisi teknis, salah satunya adalah latensi internet. Maka, kita sudah semestinya untuk tidak tergantung lagi dari hub internet di Singapura,” ungkap dia.

Berdasarkan survei penetrasi dan perilaku pengguna internet yang dilakukan APJII pada 2019-Q2 2020 memotret bahwa saat ini terdapat 196,7 juta jiwa atau 73,7 persen dari total populasi Indonesia. Jumlah ini bertambah sekitar 25,5 juta pengguna dibandingkan tahun lalu.

Sebagaimana diketahui, pemerintah merencanakan empat lokasi landing stations untuk penataan pipa dan kabel bawah laut. Empat lokasi itu adalah Batam, Kupang, Jayapura, dan Manado.

Facebook Berencana Gelar Fiber Optik

Facebook mengumumkan bahwa pihaknya telah bermitra dengan mitra regional dan global untuk membangun dua kabel bawah laut terbaru – Echo dan Bifrost – yang akan menghubungkan kawasan Asia Pasifik dan Amerika Utara.

Meskipun proyek ini masih dalam proses persetujuan pemerintah, ketika rampung, dua kabel bawah laut ini akan memberikan kapasitas internet, redundancy, dan keandalan yang dibutuhkan.

“Khususnya di kawasan Asia Pasifik, permintaan untuk 4G, 5G, dan akses broadband meningkat pesat. Echo dan Bifrost akan mendukung pertumbuhan lebih lanjut bagi ratusan juta orang dan mendukung jutaan bisnis. Kami juga memahami bahwa ekonomi berkembang pesat ketika ada internet yang dapat diakses secara luas untuk sektor usaha,” tulis Facebook via engineering.fb.com, Selasa (30/3).

Nantinya pembangunan kabel bawah laut ini akan menjadi kabel jaringan trans-pasifik pertama yang melalui rute baru melintasi Laut Jawa dan digadang-gadang dapat meningkatkan kapasitas trans-pasifik secara keseluruhan hingga 70 persen.

“Menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Amerika Utara, investasi kabel ini merefleksikan komitmen kami pada keterbukaan dan model kemitraan inovatif, di mana kami bekerja dengan beragam mitra terkemuka di Indonesia dan global untuk memastikan semua orang memperoleh manfaat dari pengembangan infrastruktur dan keahlian teknologi. Kami sangat senang dapat bermitra dengan perusahaan Indonesia seperti Telin dan XL Axiata, serta Keppel yang berbasis di Singapura, dalam proyek ini,” tulis Facebook.

2415total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *