Sinergi dan Adaptasi Jadi Jurus Hadapi Serbuan OTT

JAKARTA–Gugatan MNC Grup soal definisi ‘penyiaran’ ke Mahkamah Konstitusi pada Agustus silam membuka kembali perdebatan lawas soal layanan over the top (OTT). Pertanyaan mendasar apakah OTT lawan atau kawan kembali menarik untuk dijawab.

Guna membahas hal tersebut, Sobat Cyber Indonesia menggelar webinar bertajuk ‘OTT: Foe of Friend’ pada 25 September 2020. Ketua Umum APJII Jamalul Izza menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tersebut, selain juga sejumlah tokoh penting lainnya seperti Ketua Dewan Pengawas ASKITEL Dian Rachmawan, perwakilan APJATEL John Salim, Direktur Eksekutif ATSI Sutrisman, dan pembicara lain.

Dalam kesempatan tersebut, Jamal menegaskan OTT masuk dalam kategori aplikasi yang menjadi salah satu ekosistem yang menopang tranformasi digital. Selain aplikasi, transformasi digital hanya bisa berjalan baik jika didukung oleh network dan device yang mumpuni.

Kendati demikian, harus diakui keberadaan OTT berpengaruh besar pada infrastruktur jaringan. Catatan APJII menunjukkan pada 2015 hanya ada 30 Gbps trafik di IIX. Angka ini melonjak signifikan menjadi 800 Gbps pada 2020. “Beberapa OTT sudah ada di dalam jaringan OTT ini,” ujarnya

Sejumlah nama besar seperti Alibaba, Akamai, Facebook kini sudah terkoneksi lewat IIX APJII. Dengan demikian, belanja trafik internasional yang selama ini membebani defisit transaksi berjalan akan berkurang. “Ke depan kita ingin Indonesia menjadi hub internet internasional,” tegas Jamal.

Jamal menjelaskan Indonesia menjadi pasar potensial bagi OTT asing. Oleh karena itu tantangan selanjutnya adalah bagaimana membuat para OTT mau menggelontorkan belanja trafik di dalam negeri. Ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para produsen konten di dalam negeri.

Selain berdampak pada jaringan, OTT juga berpengaruh besar terhadap penggunaan device. Survey APJII menunjukkan saat ini ada 171 juta orang Indonesia yang mengakses internet melalui smartphone. Dari jumlah tersebut 80% di antaranya merupakan pengguna OTT. “Tantangannya adalah mayoritas pengguna teknologi digital menggunakan OOT dari luar,” Jamal menambahkan.

Dengan Average Revenue Per User (ARPU) sekitar Rp116.620, Youtube misalnya bisa meraup Rp17,1 triliun di Indonesia. “Semua pendapatan ini larinya ke luar,” ujar Jamal.

Keberadaan OTT memang sudah menjadi keniscayaan. Oleh karena itu, opsi strategis yang tersedia adalah beradaptasi dan bersinergi dengan OTT tersebut. Sinergi ini bisa berjalan jika kita bisa menerapkan beberapa hal; fair revenue distribution yang menguntungkan semua pihak, level playing field yang setara, dan menjaga kedaulatan data.

94total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *