APJII Sumsel Gelar Webinar Series 2 Bahas Desa Internet Mandiri

Webinar APJII Sumsel Bahas Desa Internet Mandiri / Dok. APJII 2020

PALEMBANG – Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar kembali webinar series 2, Kamis (18/6). Acara tersebut mengangkat tema ‘Membangun Internet Desa Menuju Desa Digital’ yang disiarkan secara langsung melalui akun Youtube Mr. Sonny Channel.

Dalam agenda itu, menghadirkan 3 pemateri yakni Network Engineer FILKM UIGM, Tasmi; Mercy Tantry, Network Engineer PT Sriwijaya Internet Services; serta Lutfhi Assegaf, Network Engineer PT Sakti Putra Mandiri. Sementara itu, untuk peserta berasal dari kalangan dosen, mahasiswa, guru SMK TKJ, Dinas Kominfo Banyuasin, Kab Empat Lawang, dan para perangkat desa di wilayah Sumsel.

“Ini merupakan webinar series 2 yang dilakukan oleh pengurus wilayah APJII Sumsel. Sebelumnya dilakukan pada minggu lalu dengan tema ‘Membangun Website dengan Digital Branding Menuju Sukses Bisnis Online’. Nah, di agenda kali ini, pembahasan akan berkutat seputar sisi teknis,” ujar Ketua APJII Pengwil Sumsel, Sony Oktapriandi.

Keseruan webinar seri 2 yang digelar APJII Pengwil Sumsel / Dok. APJII 2020

Menurut Sony, pemilihan tema di webinar kedua ini disesuaikan dengan fokus utama APJII yang ingin mengembangkan Desa Internet Mandiri.

Desa Internet Mandiri merupakan salah satu program APJII untuk mendukung pemerintah dalam pemerataan akses internet. Di sisi lain, program ini merupakan inisiatif kerja sama penyediaan layanan internet broadband bagi masyarakat desa, yang memberikan internet berkualitas bagi warga desa dengan harga terjangkau, sekaligus memberikan keuntungan komersial bagi institusi milik warga desa atau Bumdes.

Dari sisi teknis, salah satu pemateri yakni Mercy Tantry, Network Engineer PT Sriwijaya Internet Services menjelaskan implementasi desa internet mandiri. Menurut dia, pada dasarnya untuk melakukan penerapan terhadap wilayah-wilayah yang belum terjamah internet di sangat memungkinkan dilakukan oleh ISP dengan menggunakan teknologi Vsat.

“Internet di desa kalau kita lihat di lapangan sebenernya teknologi yang tepat saat ini menurut saya itu Vsat. Karena Vsat itu gak ada batasan. Mau dia di manapun selama areanya masih di Indonesia, Vsat bisa cover,” ungkapnya.

Ia pun menuturkan pengalamannya ketika ‘membebaskan’ sebuah daerah di wilayah Pagar Alam dari blankspot. Teknologi yang dipakai adalah Vsat. Biasanya, ketika perangkat Vsat di pasang kebanyakan akan menghadap ke langit. Namun di wilayah tersebut, justru mengarahkan Vsat-nya itu menghadap kaki bukit.

“Memang seringnya menghadap ke langit Vsat yang kita tembakan, tetapi tidak harus juga. Misalnya saja waktu kita memasang di daerah Pagar Alam, Vsat itu kita tembakan justru ke kaki bukit,” jelasnya.

Terlepas dari sisi teknis, Lutfhi Assegaf, Network Engineer PT Sakti Putra Mandiri mengatakan internet memang sudah seharusnya masuk desa. Banyak hal yang bisa dilakukan jika internet siap digunakan di sebuah desa. Misalnya saja, memanfaatkan keunggulan desa itu untuk bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

“Misalnya hasil alam yang bisa dijual seperti pengalaman saya membeli kulit melinjo dari e-commerce. Waktu itu si penjual bilang akan memetik dulu agar pesanan saya itu segar. Dan ketika saya terima, memang seger. Intinya, internet memang sudah saatnya masuk desa agar bisa didayagunakan warganya untuk aktivitas ekonomi,” kata dia.

Ke depan, APJII Sumsel akan mengagendakan pelatihan-pelatihan baik bersifat teknis maupun non teknis.

1067total visits,4visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *