Peluang dan Tantangan Industri Telekomunikasi di Tengah Covid-19

Diskusi Online ‘Navigating Uncertainties: Recession Resilient, Rebound Strategis’ / Dok. APJII 2020

JAKARTA – Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menggelar diskusi online bertajuk ‘Navigating Uncertainties: Recession Resilient, Rebound Strategis’ pada Jumat (15/5). Diskusi online ini diisi oleh Ketua Umum APJII Jamalul Izza, Co-Founder DigiAsia Alexander Rusli, mantan Menkominfo Rudiantara, dan CEO Telkom Telstra Erick Meijer.

Rudiantara, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa anggota APJII harus segera melakukan inovasi model bisnis. Terlebih saat ini, 70 persen bisnis anggota APJII bertumpu pada sektor korporat yang terdampak terhadap Covid-19.

“Saya bukan menggurui tetapi model bisnis anggota APJII harus berubah. Menyasar market yang sifatnya pelanggannya, katakanlah ‘white collar’. Jadi melayani mereka yang berada di komplek-komplek perumahan,” ungkap Rudiantara.

Terlebih, kata Rudiantara, pemerintah telah memperluas penerima insentif pajak untuk UMKM melalui PMK nomor 44 tahun 2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib Pajak Terdampak Wabah Virus Corona.

“Kepada teman-teman yang masuk UMKM di APJII, ada baiknya tidak hanya menunggu tetapi juga mengamati juklak dari peraturan tersebut, sehingga anggota APJII yang masuk UMKM bisa memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Peraturan ini pajaknya ditanggung oleh pemerintah sampai akhir tahun yang 0,5 persennya. Kemudian kalau ada PPh, ada perlakuan khusus untuk teman-teman UMKM,” jelasnya.

Sementara itu, Erick Meijer, CEO Telkom Telstra mengatakan, Covid-19 ini mengubah banyak perilaku konsumen. Mulai dari stay at home atau social distancing. Dengan adanya perubahan ini, bukan lagi internet mobility menjadi penting. Namun justru stability dan speed internet menjadi utama.

Stability dan speed internet itu menjadi jauh lebih penting daripada internet flexible atau internet mobility,” kata Erick.

Selanjutnya, perubahan yang terjadi adalah pola baru konsumsi. Erick menyontohkan e-commerce. E-commerce ini sebelum adanya Covid-19 meningkat tapi pelan. Namun, saat ini yang terjadi lonjakan penggunaan e-commerce melesat luar biasa.

“Jadi industri e-commerce dan sejenisnya sekarang ini terangkat. Pun susah dilihat ketika pandemic ini selesai, industri ini akan turun lagi. Pasti akan tetap stay pertumbuhannya. Home delivery juga akan stay. Kita akan lebih banyak makan di rumah,” terang dia.

Meski begitu, kata Erick, memang terjadi krisis ekonomi saat Covid-19. Banyak contoh perusahaan-perusahaan yang memberhentikan karyawan, memotong gaji karyawan, atau mengurangi pembayaran THR.

“Hal ini juga berdampak besar terhadap consumer behavior. Ini menimbulkan additional stress dan ketidakpastian baik konsumen maupun perusahaan. Untuk konsumen mulai mempertimbangkan banyak hal dan lebih lama untuk melakukan spending,” jelasnya.

Pada akhirnya, jelas Erick, masyarakat akan kembali kepada kebutuhan yang mendasar. Seperti apresiasi kepada keluarga, kesehatan, agama meningkat.

“Perubahan ini harus diantisipasi oleh kita semua. Seperti technology shift. Di perbankan, jumlah download aplikasi mobile banking meningkat dan meeting-meeting virtual menggunakan teknologi meningkat,” kata dia.

Kemudian Co-Founder DigiAsia Bios, Alexander Rusli mengatakan, anggota APJII harus lebih sensitive terhadap perubahan value chain.

“Sering kita dengar bahwa industri telekomunikasi itu seolah-olah size-nya makin kecil. Dulu saat zaman 2G, misalnya konten itu bisa nyelip di industri telekomunikasi. Tetapi sekarang diambil sama Google, Facebook, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, anggota APJII harus sensitive terhadap value chain,” ungkap Alex.

941total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *