Miss Internet Indonesia: ‘We Have to Think Before We Share’

Miss Internet Indonesia 2017 di Social Media Week 2017/Dok MII 2017

JAKARTA – Menurut survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, sebanyak 97,4 persen dari pengguna internet di Indonesia sering mengakses media sosial. Jenis media sosial yang kerap dikunjungi adalah Facebook. Dikarenakan banyaknya pengguna yang mengakses Facebook, tak jarang informasi-informasi palsu pun bertebaran. Baik itu berupa konten artikel, foto, bahkan ujaran kebencian.

Celakanya, para pengguna media sosial tak berpikir kritis terhadap konten yang didapatkannya. Mereka cenderung membagikan lagi kepada teman-temannya di media sosial tanpa melakukan tabayyun. Belum lagi masyarakat yang menuliskan status di media sosial dengan tujuan memfitnah pihak tertentu tanpa dasar yang kuat. Padahal, ada aturan hukum dalam bermuamalah melalui media sosial.

Pemahaman itulah yang masih kurang dimengerti dan dipahami oleh para pengguna internet di Indonesia. Maka, diperlukan sosialisasi mengenai betapa pentingnya pengetahuan akan hal itu. APJII melalui Miss Internet Indonesia 2017, Marsya Gusman berkontribusi memberikan edukasi kepada masyarakat dalam acara Social Media Week 2017.

Pada ajang Social Media Week 2017 itu, Marsya mengharapkan agar seluruh lapisan masyarakat baik itu pemerintah, organisasi, penyedia media sosial, dan para penggunanya  untuk aktif berkerja sama memberikan pemahaman tentang aturan dalam bermedia sosial.

“Harus ada kerja sama yang baik dari pemerintah, organisasi, penyedia social media, dan user-nya sendiri. We have to think before we share,” begitu kata dia.

Acara diskusi yang bertajuk Language & Machine: The Future of Communication itu dihadiri juga oleh beberapa stakeholder terkait, seperti Facebook, Go-Jek, Disney, Microsoft, dan lain sebagainya.

Kata Marsya, permasalahan informasi palsu dan ujaran kebencian yang marak di media sosial muncul lantaran minimnya pengetahuan literasi digital. Apalagi, semakin fasihnya masyarakat menggunakan teknologi, tetapi justru mudah tersulut emosi serta belum kritis terhadap kebenaran konten.

“Selain membahas mengenai literasi digital, di acara Social Media Week 2017 juga membahas cyberbullying, cybercrime, dan apa yang anak muda bisa perbuat untuk meminimalisir hal tersebut,” katanya.

Diskusi tersebut, kata Marsya, cukup interaktif. Sebab, kebanyakan yang hadir adalah anak-anak muda yang notabene dekat dengan media sosial.

“Animonya seru dan sangat antusias sehingga sesi menjadi lebih interaktif,” tutupnya.

50total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *